Pelangi di Langit Kelabu (Part 1)

Posted by INDAH ERINA PRISKA on February 15, 2013 in the short story |

Pukul 23.00. Jalanan yang tadinya macet sekarang mulai terasa lenggang dari lalu-lalang kendaraan. Mobil yang membawa kami sekarang melesat dengan lebih cepat. Aku cukup lelah malam ini, tapi begitu melihat mukanya yang polos tertidur di sampingku, semua perasaan lelah itu seolah sirna begitu saja. Aku melirik keluar jendela. “Subhanallah, sungguh indah langit malam ini,” gumamku dalam hati. Perjalanan ini membuatku mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam yang tak akan pernah aku lupakan.
Pandanganku kosong menatap ruangan putih ini. Semua tampak asing bagiku. Tirai putih, dinding putih, lantai putih, tempat tidur putih, beberapa tangkai mawar putih, serta benda – benda lain yang tak lepas dari warna putih. Ada selang infus menancap di pergelangan tanganku. Ku perhatikan kembali sekelilingku. Tak adakah orang lain disini?
Rasa sakit masih mendera kepalaku. Aku belum mampu beranjak dari tempat tidur. Tak lama kemudian, datanglah dua orang paruh baya yang tak kukenal memasuki ruangan. Mereka tampak kaget melihatku dan langsung mengucapkan salam kepadaku. Lalu kubalas salam mereka.
“Subhanallah, alhamdulillah kamu sudah sadar,” ucap salah – seorang dari mereka. Aku terdiam.
“Siapa kalian?” tanyaku pada mereka. Mereka tertunduk diam kemudian menarik nafas panjang. Setelah itu mereka pamit pergi meninggalkanku tanpa memberikan penjelasan apapun. Tak lama setelah itu, masuklah seorang dokter muda beserta perawatnya.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar. Ini kemajuan yang sangat pesat,” ujar dokter itu lembut.
“Dokter, apa yang sebenarnya terjadi? ”
“Kamu baru saja siuman dari masa kritis, Nisa.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Masa kritis? Kritis bagaimana? Sebenarnya apa yang terjadi padaku, Dokter? Mengapa aku tak mengingat kejadian apapun sebelum aku disini?” tanyaku emosi. Aku benar – benar bingung saat ini. Aku ingat semuanya, kecuali sebelum aku berada disini, di kamar putih ini.
“Sudah, sudah. Kamu istirahat dulu. Kamu kan baru siuman, ” ucap dokter itu dengan lembut sambil menyuntikku. Aku berusaha meronta dan terus bertanya. Tapi lama – kelamaan aku makin merasa mengantuk dan tanpa kusadari aku sudah tertidur lagi.
Aku kembali terjaga ketika aku merasakan ngilu dan nyeri di kakiku yang tertutup selimut putih. Awalnya biasa saja. Namun lama kelamaan sakitnya makin menyiksa.
“Ahhhhhhhhhhh…. Astaghfirulllah…. tolong!!!!!” aku manangis. Tapi tak ada satupun yang datang. Karena rasa sakit yang begitu menyiksa itu, langsung saja kutarik selimut yang menutup kakiku untuk mengetahui apa yang terjadi. Alangkah terkejutnya aku. Kakiku hanya ada satu!
Tak lama kemudian, dokter dan suster datang ke ruanganku. Mereka langsung menangani pendarahan di kakiku. Aku sudah tak dapat berfikir jernih lagi. Yang ada di fikiranku saat ini hanya satu. Aku lumpuh!
Aku bangun dengan sambutan mentari pagi di wajahku. Namun aku sama sekali tak bahagia akan hal itu. Aku berdiam diri sejenak. “Tuhan sudah tak sayang padaku,” gumamku dalam hati. Tak lama kemudian, dua orang yang dahulu pernah menjengukku datang kembali. Kali ini mereka bersama seorang anak kecil. Aku menoleh sejenak ke arah mereka, lalu membuang muka tanda tak tertarik pada mereka.
“Assalamualaikum, Nisa.” Ucap salah seorang dari mereka. Aku tak menoleh. “Waalaikumsaam,” jawabku dalam hati.
“Nisa, kami turut prihatin mengenai keadaamu saat ini. Kami senantiasa mendoakanmu agar engkau segera diberi kesembuhan oleh Allah.” Aku masih tak menoleh ke arah mereka.
“Nisa, ada sesuatu yang hendak kami ceritakan kepadamu. Karena itu, untuk sebentar saja mohon dengarkanlah apa yang hendak kami sampaikan ini.” Aku tersentuh oleh kata – kata itu. Aku mengalah. Kutolehkan wajahku ke arah mereka.
“Terima kasih pengertianmu, Nisa. Perkenalkan, nama Ibu, Fatimah dan ini Ibu Nur. Kami adalah pengurus panti asuhan ‘Al – Ikhlas’. Ingatkah kau pada gadis kecil ini, Nisa?” aku memperhatikannya dengan seksama. Ia tampak malu – malu dan menunduk. Aku menggeleng tak berminat.
“Baiklah, Nisa. Gadis kecil ini adalah Nurul, ia adalah salah – satu anak di Panti asuhan Al – Ikhas. Hari itu kami tengah melakukan piknik di taman kota bersama anak – anak yang lain. Tanpa kami sadari, Nurul sudah terpisah jauh dari kami. Dia mengejar seekor kupu – kupu dan menemukan sebuah taman yang indah. Ia lalu memetik bunga – bunga itu dan hendak membagikannya kepada teman – temannya. Tapi begitu dia hendak menyeberang untuk kembali, ada sebuah mobil yang melaju dengan cepat bergerak ke arahnya. Nurul sama sekali tak menyadarinya. Begitu ia tahu ada bahaya di depan matanya, ia jadi panik dan tak bisa bergerak dari tempatnya. Namun, pada saat genting itulah kau datang menolongnya, Nisa. Kau rela berkorban demi menolong dirinya dan kami sangat berterima kasih atas kebaikan hatimu.” Ucap Bu Fatimah mengakhiri cerita. Bersamaan dengan berakhirnya cerita itu, ketika itu pula memori otakku bekerja. Aku langsung mengingat kejadian hari itu. Jalan itu, mobil itu, dan anak itu!
Anak kecil itu mendekat ke arahku, kemudian mencium tanganku. Tapi entah apa yang telah merasuki diriku. Aku telah gelap mata.
PLAK!!! Aku menampar wajahnya.

*to be continue…….

Menyambut Kemenangan yang Fitri

Posted by INDAH ERINA PRISKA on August 18, 2012 in Uncategorized |

Alhamdulillah, setelah sebulan kita diuji melawan hawa nafsu, sekarang saatnya kita membuka pintu kemenangan. pintu yang akan menjadi gerbang kita untuk melewati ujian sebenarnya di sebelas bulan kedepan, insya allah…..

selamat hari raya idul fitri 1433 H

minal aidin walfaidzin, mhon maaf lahir dan batin ^^

Perjalanan Luar Biasa

Posted by INDAH ERINA PRISKA on May 24, 2012 in Uncategorized |

perjalanan ke Kandank Jurank Doank bersama Rumah Harapan @Minggu, 20 Mei 2012, perjalanan yang luar biasa…

subhanallah….

Di rumah Harapan, saya dipertemukan dengan sosok – sosok luar biasa…

Pengalaman berharga hari ini

Posted by INDAH ERINA PRISKA on May 10, 2012 in Uncategorized |

Setiap orang terlahir dengan karakteristik dan ciri – cirinya masing – masing. dan itulah yang membedakan kita satu sama lain. Ada yang ramah, rame, pendiam, baik, suka menolong, dingin, cuek, pemarah, dan sebagainya. sebenarnya setiap orang itu tidak selalu ramah, rame, pendiam, baik, suka menolong, dingin, cuek, pemarah, dan sebagainya. tapi sikap – sikap itu memang tergantung dari suasana hati dan lingkungan yang ada di sekitarnya. So, ketika orang disekitarmu (khususnya teman sepermainan kita) sedang marah atau kesal pada kita. maka bukan sikap yang baik bila kita ikut marah dan kesal padanya. marilah kita bersama – sama jadi orang yang lebih terbuka dan menerima orang lain. ingatlah kebaikan – kebaikan dia dikala hubungan kita sedang tidak baik dengannya. Manusia tidak ada yang sempurna kan ? :P

 

Kabar Biasa di Hari Pertama

Posted by INDAH ERINA PRISKA on October 3, 2011 in Uncategorized |
tenunnn

hahahahaa

hahahaa……

hari ini semua berjalan seperti biasa. tak ada yang istimewa koq… yang penting happy2 aja

 

1

Hello world!

Posted by INDAH ERINA PRISKA on October 3, 2011 in Uncategorized |

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Copyright © 2011-2014 my world is beautiful All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.2.3, from BuyNowShop.com.